The Roads Not Taken

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
—Robert Frost

Never Have You Ever

At this age, some of my friends said they are going on a quarter life crisis. After a few years graduated from college and started working in real life, they re-ask themselves about what they want to do in their life. A part of life transition, maybe. I’ve been there, too.

Until yesterday I watched a Jubilee Project recent video, where a mother and son playing a Never Have You Ever Game. A simple and thoughtful game, which going to make you tell the truth about something. There was one of the question popped up:

“Never have you ever asked your purpose in life?”

For once, I was like…..‘Well, who doesn’t?’ I guess, most people should’ve been through quarter life crisis. However, surprisingly the mother and son said they’ve never.

Whoa. How come?

I always saw those who can think simply as a gifted ones. Compared to me, the over thinker and over worrier.  Because some of my friends sometimes over think and over worry too, I considered myself as normal. AJ and his mother on the video gives a bang in my mind: ‘Oh right, why do I have to worry much about my life?’

Then I remember one of the preach I read somewhere:
When you are worrying about your life tomorrow, you actually doing a blasphemy.

Right. Right. Right.

It may sound simple, but believe me….it does not. It is not that easy to overcome the anxiety we are facing day to day.

Knowing one of your friend is going abroad for another degree, accepted on a fancy job, or finally settle down in a commitment going on everyday, it’s difficult to calm yourself down. Moreover, in this era of social media. Modernization s*cks, I know.

This era of social media made us envy what other people have, without realizing that we have something they do not. My advice, when you are going through on a crisis in life, you need to stop a while and rest. Re evaluate and filter your activity; if you spent too much time on social media, they will only make you worse.

“Flowers teach us that nothing is permanent: not their beauty, not even the fact that they will inevitably wilt, because they will still gave seeds. remember this when you feel joy, pain, or sadness. Everything passes, grows old, dies, and is reborn.

Even the tallest trees are able to grow from tiny seeds . Remember this, and try not to rush time.” – A dialogue from The Spy by Paulo Coelho

Now I try to truly believe that everything about us and our lives had been written down: God only want to know how we react to His plan. So, isn’t worrying mean we do not fully trust Him? Hu Allah hu alam.

🙂

 

Membiarkan jari-jari menari

“Acara gosip infotainment di TV menggosipkan artis terang-terangan, Pak. Apakah itu termasuk Ghibah?” tanya seorang teman ketika sekolah dasar.

Saya bersekolah di sebuah sekolah Islam sederhana di bilangan Bekasi Barat. Kelas yang diisi 40 anak tersebut tidak ber-AC, kursinya pun kayu. Kala itu kami sedang membahas tentang Ghibah.

Sayangnya, ingatan saya yang terbatas ini tidak menyimpan bagaimana persisnya jawaban pak guru untuk pertanyaan teman saya saat itu.

Beliau tidak membenarkan infotainment sebagai acara yang baik, walau tujuannya adalah hiburan.

“Sekali berghibah,” kata beliau, “maka tabungan pahala orang yang menggunjing akan ditukar dengan tumpukan dosa orang yang dibicarakan.”

Dijelaskan pula pada suatu ayat yang menyebutkan bahwa orang yang berghibah sama dengan memakan bangkai saudaranya sendiri. Siapa pula yang mau makan bangkai? Yikes. —— Read more on medium.com

Source: pinterest

Dokter Cip Si Cabe Rawit

Siapa yang tidak pernah mendengar Dokter Cipto Mangunkusumo? Dalam buku pelajaran Sejarah ia disebut-sebut sebagai salah satu pelopor pergerakan kemerdekaan.  Dalam ujian pun yang ditanyakan adalah tanggal dan tempat. Maka yang kita ingat tentang Dr. Cipto Mangunkusumo adalah beliau merupakan salah satu anggota tiga serangkai yang mendirikan Indische Partij; partai politik pertama di Hindia. Pelajaran sejarah tidak menceritakan sosok Pak Cip yang sesungguhnya: keras kepala dan kegigihan beliau dalam perjuangannya.

Saya menemukan buku berjudul Dr. Cipto Mangunkusumo yang ditulis oleh Emdeman (Mohammad Dahlan Mansoer) di salah satu toko buku bekas. Buku tersebut menjawab rasa penasaran saya mengenai sosok Pak Cip yang saya tahu namanya diabadikan sebagai rumah sakit rujukan nasional.

img_4606.jpg

Soetjipto Mangunkusumo merupakan putra sulung dari seorang priyayi, seorang guru kepala ‘Inlandsche School’. Cipto yang suka bermain bebas dengan anak-anak gembala, merasa tidak senang ketika ayahnya ditugaskan menjadi seorang ‘wedono guru’ di kota Semarang.  Habislah kesempatan bermainnya.

Kakek Cipto merupakan seorang guru agama yang sangat disegani di suatu desa dekat Ambarawa. Neneknya tidak ingin Ayah Cipto menjadi seorang guru pula, maka disekolahkanlah Ayah Cipto ke Sekolah Guru di Yogyakarta.

Saat Cipto diterima di Dokter Djawa School, embahnya berpesan: “Jangan kau lupakan sembahyang! Orang yang melalaikan sembahyang, meruntuhkan agama!”

Setelah lulus dokter, Cipto sempat mengabdi di Banjarmasin, dekat muara Sungai Mahakam sebagai dokter pemerintah. Kesiagaannya yang siap dipanggil kapan saja dan dibayar berapa saja tidak disukai oleh dokter tentara Belanda yang juga bertugas di Banjarmasin. Cipto dianggap sebagai saingan karena praktiknya semakin sepi. Masyarakat lebih suka datang ke praktik Dokter Cip yang seringkali menggratiskan obat dan pelayanan untuk rakyat miskin. Dokter tentara Belanda tersebut kemudian membujuk residen agar Cipto dipindahkan dari Banjarmasin.

Dari Banjarmasin, Cipto pindah ke Sala. Di Sala pun kerapkali ia ditegur karena enggan membuka topi dan sandalnya setiap melewati alun-alun depan Kromo. “Mereka punya banyak kewajiban pada kita!” Serunya. Suasana yang memanas ini membuatnya kemudian memilih menetap di Bandung.

Bersama (Raden Mas) Suwardi (Suryaningrat), Cipto lebih aktif menulis dalam harian De Ekspres di Bandung. Suwardi, Cipto dan Abdul Muis kemudian dipenjarakan oleh Belanda di Banceuy karena salah satu tulisannya, Andai Aku Seorang Belanda. Belanda kemudian hendak mengasingkan Cipto keluar Jawa. Maka ia pun berangkat ke Belanda dan mendalami ilmu penyakit tropis selama setahun di Rotterdam. Cipto kembali ke Jawa tepat sebelum Perang Dunia ke-I dimulai.

Perjuangan Cipto bukan tidak menuai tentangan dari keluarganya sendiri. Ayah Cipto yang merupakan pegawai pemerintah tidak ingin pekerjaannya terganggu oleh tingkah sulungnya. Dengan Cipto menjadi dokter mulanya diharapkan bisa membantu membiayai adik-adiknya. Dengan watak yang sama-sama keras, Cipto pun berseteru dengan ayahnya. Karena wataknya pula lah perkawinan Cipto dengan anak Bupati Temanggung yang dijodohkan orang tuanya kandas.

Cipto kemudian menikah dengan seorang janda Indo pilihannya sendiri di usia 30 tahun. Bu Cip kemudian setia mendampingi Pak Cip saat Cipto kembali dibuang oleh pemerintah Belanda ke Banda Neira, bersama dengan tiga anak angkatnya,

Di Banda kemudian Pak Cip bertemu dengan  Iwa Kusuma Sumantri, Bung Hatta dan Syahrir oleh pemerintah Belanda. Dalam pengasingannya, Pak Cip sempat putus asa. Melintasi luasnya nusantara dan perjuangannya selama ini, akankah bangsanya akan bertahan?

“Generasi kita, Pap, ialah perintis jalan. Generasi kita sebagai landasan yang menerima pukulan untuk menempa generasi sesudah kita! Mereka generasi penerus. Mereka bertugas meneruskan perjuangan yang telah kita pelopori.”

“Generasi kita, Pap, adalah generasi landasan. Rumah yang akan dibangun, mengendaki landasan yang kokoh. Bertambah besar rumah yang akan di bangun, harus bertambah kokoh pula landasan yang diperlukan. Landasan itu kemudian ditimbun. Tiada orang yang melihatnya, walaupun semua orang tahu tentang adanya. Itulah peranan generasi kita, Pap! Kita akan hilang dari pandangan! Orang tidak akan ingat lagi pada segala korban dan jasa kita! Walaupun mereka tahu, kita pernah ada!”

Karena asmanya yang semakin parah, Pak Cip kemudian dipindahkan ke Makassar. Kepergiannya dilepas oleh ratusan rakyat Banda yang memenuhi pelabuhan. Cipto tidak membayangkan sebelumnya akan terasa begitu berat meninggalkan tanah pengasingan.

Hingga akhir hayatnya, Cipto bersikeras menolak bantuan dari pemerintah Belanda, Empat Serangkai, bahkan dari keluarganya walau mengalami kesulitan finansial. Pak Cip, Bu Cip, dan anak-anak angkatnya menempati rumah sangat sederhana di suatu gang kecil. Cipto menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Yang Seng Ie tanggal 8 Maret 1943. Walaupun telah tiada, semangat dan kegigihan Pak Cip akan terus dikenang dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Diving The Tip of Celebes

“How many of your friends have traveled to Bunaken?” I mumbled to my buddy when our boat docked to the pier.

“Two, as far as I know.” She replied.

“Mine’s two as well, or maybe three.” I counted myself.

In fact, flight to North Sulawesi was neither short nor cheap. It took us 3 hours and almost 2.5 million IDR for round trip ticket, even though it was not a high season to travel. Maybe that’s the reason why majority of our acquaintances prefer Thailand or any other country as their travel destination.

Bunaken
My suggestion: Take left side window seat (A). You can see the island even before you land in Sam Ratulangi Airport.

But we did not regret our decision. Bunaken was totally worth.

DSC_0104
Marvelous sunset

We stayed in Bastianos Dive Resort, willing to pay some more than to commute 45 minute each way from mainland to the national park. I would recommend you to stay there too, since they provide warm hospitality and more importantly, delicious food.

The underwater view of Bunaken was fantastic. Colorful corals, school of fish everywhere, and a lot of sea turtles. If you’re lucky, you will meet sharks, too. The best time to visit: late April to November.

After 2 days and 6 dives, we are going back to the mainland. This time we will walk, instead of swim, to meet some other creatures in Tangkoko Nature Reserve.

Tangkoko Batuangus Nature Reserve is a lowland rainforest, 2 hours drive from Manado. Here you can meet the ‘fusion’ of Asian and Australian Faunas: the tarsiers, the black macaque monkeys, maleo birds, cuscus and the hornbills who make this their habitat. Unfortunately, as the land diminished, some animals have become endangered or even extinct.

Wasn’t lucky enough to meet the big monkeys but still, worth the 8 km hike. Here are some Pals I met during my visit (too bad I did not bring a tele):

Again, we were the only local tourist visited. Our guide, Meldy, said that almost all of the visitor are foreigners. It was a shame, that even his relative from Manado, did not know that Tarsius lived on the same island as theirs. Well, some road are less traveled for some reasons, right?

If you are wondering, how I arranged this tour. I googled about Tangkoko, then found contact of a recommended guide in Lonely Planet forum. He already had a reservation on our wished date, however he referred his friend to us. On the date of our visit, Meldy and a driver picked us up on the port.

DSC_0012

We were back to the city at the end of the day.

It felt weird to be surrounded by a lot of people, after being secluded on the island and forest. We missed the solitude already.

On the final day, we explored the city and of course, the culinary~

First stop of our city tour was the North Sulawesi Museum. They provide nice information about the province’s history and culture as well as basic information about human evolution. It is currently the only museum in Manado.

Second stop, Nasi Kuning Seroja. It is located on a walking distance from the museum. They provide a fancy leaf-wrap if you order take away.

Then we head to the chinese area to visit Ban Hin Kiong temple. Actually there were a bunch of temple on the area,but Ban Hin Kiong is the largest temple. We still saw some Cap Gomeh decoration along the street.

Not far from the temple, there were Wakeke Culinary area where you can find a lot of kiosk selling Manadonese traditional food: Mie Cakalang, Tinutuan (Bubur Manado), etc. Despite of its relatively cheap price, they serve quite big portion.

On our way to visit Christ Blessing Monument, we stopped in Merciful Building to buy some souvenir. They provide a wide variety of this, including outside North Sulawesi.

DSC_0335
Christ’ Blessing Monument

Unfortunately it was raining when we arrived at the monument. The statue located in a real estate residential area. On top of a hill, facing the city. It is the third largest statue of Jesus Christ after the first in Brazil and the second in Poland.

Lastly, we stopped in Christin’s Klapertaart on the way to the airport . We forgot to take pictures because the tart was too good. Yumm 😀

Andai dulu sudah ada media sosial saat palu sidang diketuk dan pertanggungjawaban Presiden BJ Habibie ditolak MPR. Akankah Indonesia segempar ini?

Andai dulu sudah ada media sosial ketika Gusdur diturunkan dari jabatan presiden. Akankah ada barisan aksi mengiringi?

Mereka adalah martir, kawan. Pahlawan pembangunan.

Kita yang belum siap menerimanya.

Pelita ini adalah harapan kami. Agar setelah padam, semangat kerja keras dan kejujuran tak lenyap bersama angin.

Kami berharap pembangunan akan terus dikebut, Sabang hingga Merauke.

Kita telah tertinggal jauh, kawan. Dari negeri seberang yang dulu bebas bersama atau bahkan setelah kita.

Jangan biarkan perbedaan memecah belah kita. Jangan biarkan mereka menertawakan sambil berpesta tiada akhir.

Ayo, tunjukkan kita satu. Tunjukkan bahwa kita punya tujuan yang sama.

Jika bukan merah putih dan garuda, maka apalagi yang akan menyatukan kita?

18274900_790715137770987_3433767748488568190_n.jpg

Kolaborasi Habisi Tuberkulosis

Menurut laporan organisasi kesehatan dunia (WHO) tahun 2016, Indonesia menjadi runner-up angka kejadian Tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia dengan 1,02 juta kasus baru setiap tahunnya. ‘Prestasi’ ini menunjukkan kondisi Indonesia yang sedang darurat TB. Masalah ini memerlukan upaya yang lebih radikal, dan tentunya tidak hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan.

Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit prioritas untuk dieradikasi. Penyakit yang dapat disembuhkan ini menyebabkan lebih dari tiga ribu kematian di dunia setiap harinya. — Read more on Indonesiana