The Roads Not Taken

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
—Robert Frost

Dokter Cip Si Cabe Rawit

Siapa yang tidak pernah mendengar Dokter Cipto Mangunkusumo? Dalam buku pelajaran Sejarah ia disebut-sebut sebagai salah satu pelopor pergerakan kemerdekaan.  Dalam ujian pun yang ditanyakan adalah tanggal dan tempat. Maka yang kita ingat tentang Dr. Cipto Mangunkusumo adalah beliau merupakan salah satu anggota tiga serangkai yang mendirikan Indische Partij; partai politik pertama di Hindia. Pelajaran sejarah tidak menceritakan sosok Pak Cip yang sesungguhnya: keras kepala dan kegigihan beliau dalam perjuangannya.

Saya menemukan buku berjudul Dr. Cipto Mangunkusumo yang ditulis oleh Emdeman (Mohammad Dahlan Mansoer) di salah satu toko buku bekas. Buku tersebut menjawab rasa penasaran saya mengenai sosok Pak Cip yang saya tahu namanya diabadikan sebagai rumah sakit rujukan nasional.

img_4606.jpg

Soetjipto Mangunkusumo merupakan putra sulung dari seorang priyayi, seorang guru kepala ‘Inlandsche School’. Cipto yang suka bermain bebas dengan anak-anak gembala, merasa tidak senang ketika ayahnya ditugaskan menjadi seorang ‘wedono guru’ di kota Semarang.  Habislah kesempatan bermainnya.

Kakek Cipto merupakan seorang guru agama yang sangat disegani di suatu desa dekat Ambarawa. Neneknya tidak ingin Ayah Cipto menjadi seorang guru pula, maka disekolahkanlah Ayah Cipto ke Sekolah Guru di Yogyakarta.

Saat Cipto diterima di Dokter Djawa School, embahnya berpesan: “Jangan kau lupakan sembahyang! Orang yang melalaikan sembahyang, meruntuhkan agama!”

Setelah lulus dokter, Cipto sempat mengabdi di Banjarmasin, dekat muara Sungai Mahakam sebagai dokter pemerintah. Kesiagaannya yang siap dipanggil kapan saja dan dibayar berapa saja tidak disukai oleh dokter tentara Belanda yang juga bertugas di Banjarmasin. Cipto dianggap sebagai saingan karena praktiknya semakin sepi. Masyarakat lebih suka datang ke praktik Dokter Cip yang seringkali menggratiskan obat dan pelayanan untuk rakyat miskin. Dokter tentara Belanda tersebut kemudian membujuk residen agar Cipto dipindahkan dari Banjarmasin.

Dari Banjarmasin, Cipto pindah ke Sala. Di Sala pun kerapkali ia ditegur karena enggan membuka topi dan sandalnya setiap melewati alun-alun depan Kromo. “Mereka punya banyak kewajiban pada kita!” Serunya. Suasana yang memanas ini membuatnya kemudian memilih menetap di Bandung.

Bersama (Raden Mas) Suwardi (Suryaningrat), Cipto lebih aktif menulis dalam harian De Ekspres di Bandung. Suwardi, Cipto dan Abdul Muis kemudian dipenjarakan oleh Belanda di Banceuy karena salah satu tulisannya, Andai Aku Seorang Belanda. Belanda kemudian hendak mengasingkan Cipto keluar Jawa. Maka ia pun berangkat ke Belanda dan mendalami ilmu penyakit tropis selama setahun di Rotterdam. Cipto kembali ke Jawa tepat sebelum Perang Dunia ke-I dimulai.

Perjuangan Cipto bukan tidak menuai tentangan dari keluarganya sendiri. Ayah Cipto yang merupakan pegawai pemerintah tidak ingin pekerjaannya terganggu oleh tingkah sulungnya. Dengan Cipto menjadi dokter mulanya diharapkan bisa membantu membiayai adik-adiknya. Dengan watak yang sama-sama keras, Cipto pun berseteru dengan ayahnya. Karena wataknya pula lah perkawinan Cipto dengan anak Bupati Temanggung yang dijodohkan orang tuanya kandas.

Cipto kemudian menikah dengan seorang janda Indo pilihannya sendiri di usia 30 tahun. Bu Cip kemudian setia mendampingi Pak Cip saat Cipto kembali dibuang oleh pemerintah Belanda ke Banda Neira, bersama dengan tiga anak angkatnya,

Di Banda kemudian Pak Cip bertemu dengan  Iwa Kusuma Sumantri, Bung Hatta dan Syahrir oleh pemerintah Belanda. Dalam pengasingannya, Pak Cip sempat putus asa. Melintasi luasnya nusantara dan perjuangannya selama ini, akankah bangsanya akan bertahan?

“Generasi kita, Pap, ialah perintis jalan. Generasi kita sebagai landasan yang menerima pukulan untuk menempa generasi sesudah kita! Mereka generasi penerus. Mereka bertugas meneruskan perjuangan yang telah kita pelopori.”

“Generasi kita, Pap, adalah generasi landasan. Rumah yang akan dibangun, mengendaki landasan yang kokoh. Bertambah besar rumah yang akan di bangun, harus bertambah kokoh pula landasan yang diperlukan. Landasan itu kemudian ditimbun. Tiada orang yang melihatnya, walaupun semua orang tahu tentang adanya. Itulah peranan generasi kita, Pap! Kita akan hilang dari pandangan! Orang tidak akan ingat lagi pada segala korban dan jasa kita! Walaupun mereka tahu, kita pernah ada!”

Karena asmanya yang semakin parah, Pak Cip kemudian dipindahkan ke Makassar. Kepergiannya dilepas oleh ratusan rakyat Banda yang memenuhi pelabuhan. Cipto tidak membayangkan sebelumnya akan terasa begitu berat meninggalkan tanah pengasingan.

Hingga akhir hayatnya, Cipto bersikeras menolak bantuan dari pemerintah Belanda, Empat Serangkai, bahkan dari keluarganya walau mengalami kesulitan finansial. Pak Cip, Bu Cip, dan anak-anak angkatnya menempati rumah sangat sederhana di suatu gang kecil. Cipto menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Yang Seng Ie tanggal 8 Maret 1943. Walaupun telah tiada, semangat dan kegigihan Pak Cip akan terus dikenang dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

“I’ve always believed in numbers, in equations, in logic and reason.But after a lifetime of such pursuits: I ask What truly is logic? Who decides reason? My quest has taken me to the physical, the metaphysical, the delusional, and back. I have made the most important discovery of my career – the most important discovery of my life. It is only in the mysterious equations of love that any logic or reasons can be found.”                     – John Nash of A Beautiful Mind

The Clouds and The Sand Dunes

Love can formed in many ways. There was a story about the moon and the sun which light the world. This time, I want to share one from Paulo Coelho’s book, Like The Flowing River.

“As everyone knows, the life of a cloud is very busy and very short” writes Bruno Ferrero. And here’s a related story:

A young cloud was born in the midst of a great storm over the Mediterranean Sea, but he did not even have time to grow up there, for a strong wind pushed all the clouds towards Africa.

As soon as the clouds reached the continent the climate changed. A bright sun was shining in the sky and stretched out beneath them, lay the golden sands of the Sahara. Since it almost never rains in the desert, the wind continued pushing the clouds towards the forests in the south.

Meanwhile, as happens with young humans too, the young cloud decided to leave his parents and his older friends in order to discover the world.

‘What are you doing’ cried the wind.

‘The desert’s the same all over. Rejoin the other clouds, and we’ll go to Central Africa where there are amazing mountains and trees!’

But the young cloud, natural rebel, refused to obey, and, gradually, he dropped down until he found a gentle, generous breeze that allowed him to hover over the golden sands. After much toing and froing, he noticed that one of the dunes was smiling at him. He saw that the dune was also young, newly formed by the wind that had just passed over.

He fell in love with her golden hair right there and then. ‘Good morning’, he said. ‘what’s life like down there?’

‘I have the company of the other dunes, of the sun and the wind, and of the caravans that occasionally pass through here. Sometimes it’s really hot,but it’s still bearable. What’s life like up there?’

‘We have the sun and the wind too, but the good thing is that I can travel across the sky and see more things.’

‘For me,’ said the dune, ‘life is short. When the wind returns from the forests, I will disappear.’

‘And does that make you sad?’

‘It makes me feel that I have no purpose in life.’

‘I feel the same. As soon as another wind comes along, I’ll go south and be transformed into rain; but that’s my destiny.’

The dune hesitated for a moment, then said: ‘Did you know that here in the desert, we call the rain paradise?’

‘I had no idea I could ever be that important,’ said the cloud proudly.

‘I’ve heard other older dunes tell stories about the rain. They say that, after the rain. We are all covered with grass and flowers. But I’ll never experience that, because in the desert it rains so rarely.’

It was the cloud’s turn to hesitate now. Then he smiled broadly and said: ‘If you like, I can rain on you now. I know I’ve only just hot here, but I love you, and I’d like to stay here for ever.’

‘When I first saw you in the sky, I fell in love with you too,’ said the dune.

‘But it you transform your lovely white hair into rain, you will die ‘

‘Love never dies,’ said the clouds. ‘It is transformed, and, besides, I want to show you what paradise is like.’

And he began to caress the dune with little drops of rain, so that they could stay together for longer, until a rainbow appeared.

The following day, the little dune was covered in flowers. Other clouds that passed over, heading for Africa, thought it must be part of the forest they were looking for and scattered more rain.

Twenty years later, the dune had been transformed into an oasis that refresh the travelers with the shade of its trees. And all because, one day, a cloud fall in love, and was not afraid to give his life for that love.