Never Have You Ever

At this age, some of my friends said they are going through a quarter life crisis. After a few years graduated from college and started working in real life, they often re-ask themselves about what they want to do in their life. Probably it is s part of life transition. Because I’ve been there, too.

Until yesterday I watched a Jubilee Project recent video, where a mother and son playing a Never Have You Ever Game. A simple and thoughtful game, which going to make you tell the truth about something. Then there was a question:

“Never have you ever asked your purpose in life?”

For once, I was like…..‘Well, who doesn’t?’ I guess, most people should’ve been through life crisis life crisis.

Surprisingly, the mother and son said they have never. Wow.

I always saw those who can think simply as the gifted ones. As for me, I always over-think and over-worry about things.  I know some of my friends sometimes over think and over worry too, so I considered myself as normal.

However, AJ and his mother on the video gave a bang to my mind: ‘Oh right, why do I have to worry much about my life?’

Like a lightning, a quote from from a preach I read somewhere popped up in my mind:
When you are worrying about your life tomorrow, you actually doing a blasphemy.

Right. Right. Right.

It may sound simple, but believe me….it does not. It is not that easy to overcome the anxiety we are facing day to day.

Knowing one of your friend is going abroad for another degree, starting a fancy job, or finally settling down in a commitment—-literally everyday, it’s difficult to calm yourself down. Moreover, in this era of social media. Modernization s*cks, I know.

This era of social media made us envy what other people have, without realizing that we have something they do not. My advice, when you are going through on a crisis in life, you need to stop a while and rest. Re-evaluate and filter your activity; if you spent too much time on social media, they will only make you worse.

“Flowers teach us that nothing is permanent: not their beauty, not even the fact that they will inevitably wilt, because they will still gave seeds. Remember this when you feel joy, pain, or sadness. Everything passes, grows old, dies, and is reborn.

Even the tallest trees are able to grow from tiny seeds . Remember this, and try not to rush time.” – A dialogue from The Spy by Paulo Coelho

I try to truly believe that everything about us and our lives had been written down: God only want to know how we react to His plan. So, isn’t worrying mean we do not fully trust Him? Hu Allah hu alam.

🙂

 

Advertisements

Membiarkan jari-jari menari

“Acara gosip infotainment di TV menggosipkan artis terang-terangan, Pak. Apakah itu termasuk Ghibah?” tanya seorang teman ketika sekolah dasar.

Saya bersekolah di sebuah sekolah Islam sederhana di bilangan Bekasi Barat. Kelas yang diisi 40 anak tersebut tidak ber-AC, kursinya pun kayu. Kala itu kami sedang membahas tentang Ghibah.

Sayangnya, ingatan saya yang terbatas ini tidak menyimpan bagaimana persisnya jawaban pak guru untuk pertanyaan teman saya saat itu.

Beliau tidak membenarkan infotainment sebagai acara yang baik, walau tujuannya adalah hiburan.

“Sekali berghibah,” kata beliau, “maka tabungan pahala orang yang menggunjing akan ditukar dengan tumpukan dosa orang yang dibicarakan.”

Dijelaskan pula pada suatu ayat yang menyebutkan bahwa orang yang berghibah sama dengan memakan bangkai saudaranya sendiri. Siapa pula yang mau makan bangkai? Yikes. —— Read more on medium.com

Source: pinterest

Dokter Cip Si Cabe Rawit

Siapa yang tidak pernah mendengar Dokter Cipto Mangunkusumo? Dalam buku pelajaran Sejarah ia disebut-sebut sebagai salah satu pelopor pergerakan kemerdekaan.  Dalam ujian pun yang ditanyakan adalah tanggal dan tempat. Maka yang kita ingat tentang Dr. Cipto Mangunkusumo adalah beliau merupakan salah satu anggota tiga serangkai yang mendirikan Indische Partij; partai politik pertama di Hindia. Pelajaran sejarah tidak menceritakan sosok Pak Cip yang sesungguhnya: keras kepala dan kegigihan beliau dalam perjuangannya.

Saya menemukan buku berjudul Dr. Cipto Mangunkusumo yang ditulis oleh Emdeman (Mohammad Dahlan Mansoer) di salah satu toko buku bekas. Buku tersebut menjawab rasa penasaran saya mengenai sosok Pak Cip yang saya tahu namanya diabadikan sebagai rumah sakit rujukan nasional.

img_4606.jpg

Soetjipto Mangunkusumo merupakan putra sulung dari seorang priyayi, seorang guru kepala ‘Inlandsche School’. Cipto yang suka bermain bebas dengan anak-anak gembala, merasa tidak senang ketika ayahnya ditugaskan menjadi seorang ‘wedono guru’ di kota Semarang.  Habislah kesempatan bermainnya.

Kakek Cipto merupakan seorang guru agama yang sangat disegani di suatu desa dekat Ambarawa. Neneknya tidak ingin Ayah Cipto menjadi seorang guru pula, maka disekolahkanlah Ayah Cipto ke Sekolah Guru di Yogyakarta.

Saat Cipto diterima di Dokter Djawa School, embahnya berpesan: “Jangan kau lupakan sembahyang! Orang yang melalaikan sembahyang, meruntuhkan agama!”

Setelah lulus dokter, Cipto sempat mengabdi di Banjarmasin, dekat muara Sungai Mahakam sebagai dokter pemerintah. Kesiagaannya yang siap dipanggil kapan saja dan dibayar berapa saja tidak disukai oleh dokter tentara Belanda yang juga bertugas di Banjarmasin. Cipto dianggap sebagai saingan karena praktiknya semakin sepi. Masyarakat lebih suka datang ke praktik Dokter Cip yang seringkali menggratiskan obat dan pelayanan untuk rakyat miskin. Dokter tentara Belanda tersebut kemudian membujuk residen agar Cipto dipindahkan dari Banjarmasin.

Dari Banjarmasin, Cipto pindah ke Sala. Di Sala pun kerapkali ia ditegur karena enggan membuka topi dan sandalnya setiap melewati alun-alun depan Kromo. “Mereka punya banyak kewajiban pada kita!” Serunya. Suasana yang memanas ini membuatnya kemudian memilih menetap di Bandung.

Bersama (Raden Mas) Suwardi (Suryaningrat), Cipto lebih aktif menulis dalam harian De Ekspres di Bandung. Suwardi, Cipto dan Abdul Muis kemudian dipenjarakan oleh Belanda di Banceuy karena salah satu tulisannya, Andai Aku Seorang Belanda. Belanda kemudian hendak mengasingkan Cipto keluar Jawa. Maka ia pun berangkat ke Belanda dan mendalami ilmu penyakit tropis selama setahun di Rotterdam. Cipto kembali ke Jawa tepat sebelum Perang Dunia ke-I dimulai.

Perjuangan Cipto bukan tidak menuai tentangan dari keluarganya sendiri. Ayah Cipto yang merupakan pegawai pemerintah tidak ingin pekerjaannya terganggu oleh tingkah sulungnya. Dengan Cipto menjadi dokter mulanya diharapkan bisa membantu membiayai adik-adiknya. Dengan watak yang sama-sama keras, Cipto pun berseteru dengan ayahnya. Karena wataknya pula lah perkawinan Cipto dengan anak Bupati Temanggung yang dijodohkan orang tuanya kandas.

Cipto kemudian menikah dengan seorang janda Indo pilihannya sendiri di usia 30 tahun. Bu Cip kemudian setia mendampingi Pak Cip saat Cipto kembali dibuang oleh pemerintah Belanda ke Banda Neira, bersama dengan tiga anak angkatnya,

Di Banda kemudian Pak Cip bertemu dengan  Iwa Kusuma Sumantri, Bung Hatta dan Syahrir oleh pemerintah Belanda. Dalam pengasingannya, Pak Cip sempat putus asa. Melintasi luasnya nusantara dan perjuangannya selama ini, akankah bangsanya akan bertahan?

“Generasi kita, Pap, ialah perintis jalan. Generasi kita sebagai landasan yang menerima pukulan untuk menempa generasi sesudah kita! Mereka generasi penerus. Mereka bertugas meneruskan perjuangan yang telah kita pelopori.”

“Generasi kita, Pap, adalah generasi landasan. Rumah yang akan dibangun, mengendaki landasan yang kokoh. Bertambah besar rumah yang akan di bangun, harus bertambah kokoh pula landasan yang diperlukan. Landasan itu kemudian ditimbun. Tiada orang yang melihatnya, walaupun semua orang tahu tentang adanya. Itulah peranan generasi kita, Pap! Kita akan hilang dari pandangan! Orang tidak akan ingat lagi pada segala korban dan jasa kita! Walaupun mereka tahu, kita pernah ada!”

Karena asmanya yang semakin parah, Pak Cip kemudian dipindahkan ke Makassar. Kepergiannya dilepas oleh ratusan rakyat Banda yang memenuhi pelabuhan. Cipto tidak membayangkan sebelumnya akan terasa begitu berat meninggalkan tanah pengasingan.

Hingga akhir hayatnya, Cipto bersikeras menolak bantuan dari pemerintah Belanda, Empat Serangkai, bahkan dari keluarganya walau mengalami kesulitan finansial. Pak Cip, Bu Cip, dan anak-anak angkatnya menempati rumah sangat sederhana di suatu gang kecil. Cipto menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Yang Seng Ie tanggal 8 Maret 1943. Walaupun telah tiada, semangat dan kegigihan Pak Cip akan terus dikenang dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Kolaborasi Habisi Tuberkulosis

Menurut laporan organisasi kesehatan dunia (WHO) tahun 2016, Indonesia menjadi runner-up angka kejadian Tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia dengan 1,02 juta kasus baru setiap tahunnya. ‘Prestasi’ ini menunjukkan kondisi Indonesia yang sedang darurat TB. Masalah ini memerlukan upaya yang lebih radikal, dan tentunya tidak hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan.

Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit prioritas untuk dieradikasi. Penyakit yang dapat disembuhkan ini menyebabkan lebih dari tiga ribu kematian di dunia setiap harinya. — Read more on Indonesiana

Menguatkan Layanan Kesehatan Primer

Nyonya Sri (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pasien poliklinik di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumedang. Beliau adalah seorang penderita kencing manis yang membutuhkan pengobatan insulin. Setiap bulannya Ny. Sri harus dirujuk ke poliklinik diabetes RS karena dokter umum di puskesmas tidak memiliki wewenang untuk meresepkan insulin. Padahal, rumah sakit rujukan tersebut berjarak cukup jauh dari rumah Ny. Sri.

Ilustrasi di atas saya temui saat koasisten pada pertengahan tahun 2016 lalu. Kondisi tersebut menggambarkan kebutuhan masyarakat yang seringkali berbenturan dengan kemampuan dan wewenang yang dimiliki dokter umum di layanan kesehatan primer. Kondisi ini akan lebih efisien jika kemampuan dan wewenang dialihkan pada dokter di puskesmas, agar penderita tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit. — Read more on Indonesiana

Sekilas Pengendalian Tembakau di Indonesia

Globular Health initiative

Belum tuntas pada 2016, Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengendalian Tembakau akan kembali dimasukkan ke dalam Program Legislatif Nasional (Prolegnas) 2017. Dilansir dari The Jakarta Post, kembalinya Ketua Fraksi Golkar sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI memperbarui momentum UU yang berusaha melipatgandakan produksi tembakau hingga 524 milyar rokok pada 2020 mendatang.

Padahal, 13 Desember 2016 lalu Mahkamah Agung (MA) telah mengeluarkan putusan yang mencabut Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 63/M-IND/PER/8/2015 tentang Peta Jalan Industri Hasil Tembakau Tahun 2015-2020. MA menyatakan Permenperin tersebut bertentangan dengan lima peraturan perundangan yang lebih tinggi, tentang kesehatan, hak asasi manusia, hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, perlindungan anak, serta cukai.

Besarnya kontribusi cukai rokok pada pendapatan negara menjadi salah satu alasan yang mendorong digagasnya UU Pengendalian Tembakau. Sepanjang tahun 2015 misalnya, cukai rokok menyumbangkan pendapatan sebesar 139,5 triliun rupiah.

UU Pengendalian Tembakau juga dimaksudkan untuk melestarikan tembakau sebagai bagian dari budaya Indonesia. Hal ini dicantumkan pada

View original post 516 more words