Dokter Cip Si Cabe Rawit

Siapa yang tidak pernah mendengar Dokter Cipto Mangunkusumo? Dalam buku pelajaran Sejarah ia disebut-sebut sebagai salah satu pelopor pergerakan kemerdekaan.  Dalam ujian pun yang ditanyakan adalah tanggal dan tempat. Maka yang kita ingat tentang Dr. Cipto Mangunkusumo adalah beliau merupakan salah satu anggota tiga serangkai yang mendirikan Indische Partij; partai politik pertama di Hindia. Pelajaran sejarah tidak menceritakan sosok Pak Cip yang sesungguhnya: keras kepala dan kegigihan beliau dalam perjuangannya.

Saya menemukan buku berjudul Dr. Cipto Mangunkusumo yang ditulis oleh Emdeman (Mohammad Dahlan Mansoer) di salah satu toko buku bekas. Buku tersebut menjawab rasa penasaran saya mengenai sosok Pak Cip yang saya tahu namanya diabadikan sebagai rumah sakit rujukan nasional.

img_4606.jpg

Soetjipto Mangunkusumo merupakan putra sulung dari seorang priyayi, seorang guru kepala ‘Inlandsche School’. Cipto yang suka bermain bebas dengan anak-anak gembala, merasa tidak senang ketika ayahnya ditugaskan menjadi seorang ‘wedono guru’ di kota Semarang.  Habislah kesempatan bermainnya.

Kakek Cipto merupakan seorang guru agama yang sangat disegani di suatu desa dekat Ambarawa. Neneknya tidak ingin Ayah Cipto menjadi seorang guru pula, maka disekolahkanlah Ayah Cipto ke Sekolah Guru di Yogyakarta.

Saat Cipto diterima di Dokter Djawa School, embahnya berpesan: “Jangan kau lupakan sembahyang! Orang yang melalaikan sembahyang, meruntuhkan agama!”

Setelah lulus dokter, Cipto sempat mengabdi di Banjarmasin, dekat muara Sungai Mahakam sebagai dokter pemerintah. Kesiagaannya yang siap dipanggil kapan saja dan dibayar berapa saja tidak disukai oleh dokter tentara Belanda yang juga bertugas di Banjarmasin. Cipto dianggap sebagai saingan karena praktiknya semakin sepi. Masyarakat lebih suka datang ke praktik Dokter Cip yang seringkali menggratiskan obat dan pelayanan untuk rakyat miskin. Dokter tentara Belanda tersebut kemudian membujuk residen agar Cipto dipindahkan dari Banjarmasin.

Dari Banjarmasin, Cipto pindah ke Sala. Di Sala pun kerapkali ia ditegur karena enggan membuka topi dan sandalnya setiap melewati alun-alun depan Kromo. “Mereka punya banyak kewajiban pada kita!” Serunya. Suasana yang memanas ini membuatnya kemudian memilih menetap di Bandung.

Bersama (Raden Mas) Suwardi (Suryaningrat), Cipto lebih aktif menulis dalam harian De Ekspres di Bandung. Suwardi, Cipto dan Abdul Muis kemudian dipenjarakan oleh Belanda di Banceuy karena salah satu tulisannya, Andai Aku Seorang Belanda. Belanda kemudian hendak mengasingkan Cipto keluar Jawa. Maka ia pun berangkat ke Belanda dan mendalami ilmu penyakit tropis selama setahun di Rotterdam. Cipto kembali ke Jawa tepat sebelum Perang Dunia ke-I dimulai.

Perjuangan Cipto bukan tidak menuai tentangan dari keluarganya sendiri. Ayah Cipto yang merupakan pegawai pemerintah tidak ingin pekerjaannya terganggu oleh tingkah sulungnya. Dengan Cipto menjadi dokter mulanya diharapkan bisa membantu membiayai adik-adiknya. Dengan watak yang sama-sama keras, Cipto pun berseteru dengan ayahnya. Karena wataknya pula lah perkawinan Cipto dengan anak Bupati Temanggung yang dijodohkan orang tuanya kandas.

Cipto kemudian menikah dengan seorang janda Indo pilihannya sendiri di usia 30 tahun. Bu Cip kemudian setia mendampingi Pak Cip saat Cipto kembali dibuang oleh pemerintah Belanda ke Banda Neira, bersama dengan tiga anak angkatnya,

Di Banda kemudian Pak Cip bertemu dengan  Iwa Kusuma Sumantri, Bung Hatta dan Syahrir oleh pemerintah Belanda. Dalam pengasingannya, Pak Cip sempat putus asa. Melintasi luasnya nusantara dan perjuangannya selama ini, akankah bangsanya akan bertahan?

“Generasi kita, Pap, ialah perintis jalan. Generasi kita sebagai landasan yang menerima pukulan untuk menempa generasi sesudah kita! Mereka generasi penerus. Mereka bertugas meneruskan perjuangan yang telah kita pelopori.”

“Generasi kita, Pap, adalah generasi landasan. Rumah yang akan dibangun, mengendaki landasan yang kokoh. Bertambah besar rumah yang akan di bangun, harus bertambah kokoh pula landasan yang diperlukan. Landasan itu kemudian ditimbun. Tiada orang yang melihatnya, walaupun semua orang tahu tentang adanya. Itulah peranan generasi kita, Pap! Kita akan hilang dari pandangan! Orang tidak akan ingat lagi pada segala korban dan jasa kita! Walaupun mereka tahu, kita pernah ada!”

Karena asmanya yang semakin parah, Pak Cip kemudian dipindahkan ke Makassar. Kepergiannya dilepas oleh ratusan rakyat Banda yang memenuhi pelabuhan. Cipto tidak membayangkan sebelumnya akan terasa begitu berat meninggalkan tanah pengasingan.

Hingga akhir hayatnya, Cipto bersikeras menolak bantuan dari pemerintah Belanda, Empat Serangkai, bahkan dari keluarganya walau mengalami kesulitan finansial. Pak Cip, Bu Cip, dan anak-anak angkatnya menempati rumah sangat sederhana di suatu gang kecil. Cipto menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Yang Seng Ie tanggal 8 Maret 1943. Walaupun telah tiada, semangat dan kegigihan Pak Cip akan terus dikenang dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya.